Kita akan membahas tentang bagaimana membaca peta. Sebagai seorang miner, peta merupakan hal dasar yang harus kita ketahui. Peta yang dibuat oleh geologist, harus dapat kita baca dengan baik dan benar agar tidak terjainya miss-communication.
Sumber ini saya dapatkan dari Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi
BAKOSURTANAL tahun 2004.
Saya akan membagi tulisan ini mejadi 4 BAB, yaitu :
1) Pengertian Peta.
2) Skala.
3) Cara Membaca Kontur.
4) Menentukan Kemiringan pada Lereng.
1) Pengertian Peta.
2) Skala.
3) Cara Membaca Kontur.
4) Menentukan Kemiringan pada Lereng.
1. PENGERTIAN PETA
Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan
manusia, yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang
digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu. Beberapa
jenis peta secara umum dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu :
a. Peta Rupabumi:
Peta yang menampilkan sebagian unsur-unsur buatan manusia (kota, jalan, struktur bangunan lain) serta unsur alam (sungai, danau, gunung, dsb) pada bidang datar dengan skala dan proyeksi tertentu. Peta Rupabumi dalam istilah asingnya sering disebut sebagai Topographic Map.
Peta yang menampilkan sebagian unsur-unsur buatan manusia (kota, jalan, struktur bangunan lain) serta unsur alam (sungai, danau, gunung, dsb) pada bidang datar dengan skala dan proyeksi tertentu. Peta Rupabumi dalam istilah asingnya sering disebut sebagai Topographic Map.
b. Peta Tematik:
Peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu (land status, penduduk, transportasi dll.) dengan menggunakan peta rupabumi yang telah disederhanakan sebagai dasaruntuk meletakkan informasi tematiknya.
Peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu (land status, penduduk, transportasi dll.) dengan menggunakan peta rupabumi yang telah disederhanakan sebagai dasaruntuk meletakkan informasi tematiknya.
Instansi yang bertanggung jawab terhadap pembuatan Peta Rupabumi
Indonesia adalah Badan Koordinasi Surveidan Pemetaan Nasional disingkat
BAKOSURTANAL. Selain itu BAKOSURTANAL juga menyediakan penyiapan dan
mempublikasikan seri-seri peta dasarnasional atau peta rupabumi. Peta
dasar nasional tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan
petapeta tematik, misalnya Peta Tematik Sumberdaya Alam Nasional.
2. SKALA
a. Pengertian Skala
Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas
peta dengan jarak tersebut di permukaan bumi.Pada peta skala 1:50.000,
jarak 1 cm di peta berati 50.000 cm atau 500 meter di lapangan.
Andaikan kita mengukur jarak = 3 cm di peta skala 1:50.000, ini berarti jarak di lapangan adalah:
3 cm di peta = 3 x 50.000 cm atau 150.000 cm,
atau = 1500 meter = 1,5 km di lapangan
3 cm di peta = 3 x 50.000 cm atau 150.000 cm,
atau = 1500 meter = 1,5 km di lapangan
b. Pernyataan Skala Peta
Ada dua (2) cara menyatakan skala pada peta, yaitu:
1. Cara numerik atau angka, misalnya 1:25.000, 1:50.000, 1:100.000,
2. Cara grafis, seperti gambar di bawah ini
3. CARA MEMBACA KONTUR
Kontur adalah garis khayal untukmenggambarkan semua titik yang mempunyai
ketinggian yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu
yang disebut permukaan lautrata-rata. Kontur digambarkan dengan interval
vertikal yang reguler. Interval kontur adalah jarak vertikal antara 2
(dua) garis ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya. Besarnya
interval kontur sesuai dengan skala peta dan keadaan di muka bumi.
Interval kontur selalu dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di
atas skala grafis.
Kontur biasanya digambar dalam bentukgaris-garis utuh yang kontinyu
(biasanya berwarna cokelat atau oranye). Setiap kontur keempat atau
kelima (tergantung pada intervalnya) dibuatlah indeks, dan digambarkan
dengan garis yang lebih tebal. Kontur indeks dimaksudkan untuk membantu
pembacaan
kontur dan menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan pada bagian kontur yang diputus, dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi). Pada daerah datar yang jarak horisontalnya lebih dari 40 mm sesuai skala peta dibuat garis kontur bantu. Kontur bantu ini sangat berarti terutama jika ada gundukan kecil pada daerah yang datar. Kontur bantu digambar pada peta berupa garis putus-putus untuk membedakan dengan kontur standar.
kontur dan menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan pada bagian kontur yang diputus, dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi). Pada daerah datar yang jarak horisontalnya lebih dari 40 mm sesuai skala peta dibuat garis kontur bantu. Kontur bantu ini sangat berarti terutama jika ada gundukan kecil pada daerah yang datar. Kontur bantu digambar pada peta berupa garis putus-putus untuk membedakan dengan kontur standar.
3.1 Bentuk Kontur
Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan lahan yang
sebenarnya. Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang
terjal, kontur-kontur yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai.
Jika kontur-kontur itu memiliki jarak satusama lain secara tetap, maka
kemiringannya teratur.
kemiringannya teratur.
Beberapa catatan tentang kontur sebagai berikut:
1. Kontur adalah kontinyu (bersinambung). Sejauh mana pun kontur berada, tetap akan bertemu kembali di titik awalnya. Perkecualiannya adalah jika kontur masuk ke suatu daerah kemiringan yang curam atau nyaris vertikal, karena ketiadaan ruang untuk menyajikan kontur-kontur secara terpisah pada pandangan horisontal, maka lereng terjal tersebut digambarkan dengan simbol. Selanjutnya, kontur-kontur akan masuk dan keluar dari simbol tersebut.
2. Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek. Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan memberikan pandangan yang panjang.
3. Jika pada kontur-kontur yang berbentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang).
1. Kontur adalah kontinyu (bersinambung). Sejauh mana pun kontur berada, tetap akan bertemu kembali di titik awalnya. Perkecualiannya adalah jika kontur masuk ke suatu daerah kemiringan yang curam atau nyaris vertikal, karena ketiadaan ruang untuk menyajikan kontur-kontur secara terpisah pada pandangan horisontal, maka lereng terjal tersebut digambarkan dengan simbol. Selanjutnya, kontur-kontur akan masuk dan keluar dari simbol tersebut.
2. Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek. Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan memberikan pandangan yang panjang.
3. Jika pada kontur-kontur yang berbentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang).
4. Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur menunjukkan lereng yang
patah-patah. Kontur-kontur yang halus belokannya juga menunjukkan
permukaan yang teratur (tidak patah-patah), kecuali pada peta skala
kecil pada umumnya penyajian kontur cenderung halus akibat adanya proses
generalisasi yang dimaksudkan untukmenghilangkan detil-detil kecil
(minor).
Gambar : Berbagai kenampakan kontur
Gambar : Profil permukaan lahan dari potongan garis A-B
Kenampakan yang tidak berubah dengan penggambaran kontur adalah bukit
dan lembah. Bentuk permukaan lahan tidak berubah cukup berarti meskipun
ada erkebunan). Penafsiran yang benar terhadap bentuk permukaan lahan
membutuhkan latihan, praktek dan pengalaman yang memadai di lapangan.
3.2. Membuat Potongan Profil
Untuk membuat suatu potongan profil yang utuh antara dua titik A dan B pada peta berkontur, gambarlah sebuah garislurus pada peta antara titik-titik tersebut. Temukan kontur-kontur rendah dan tinggi yang terpotong oleh garis. Pada gambar di bawah ini, kontur yang tertinggi adalah 200 meter, dan yang terendah adalah 80 meter.
Untuk membuat suatu potongan profil yang utuh antara dua titik A dan B pada peta berkontur, gambarlah sebuah garislurus pada peta antara titik-titik tersebut. Temukan kontur-kontur rendah dan tinggi yang terpotong oleh garis. Pada gambar di bawah ini, kontur yang tertinggi adalah 200 meter, dan yang terendah adalah 80 meter.
Letakkan secarik kertas dengan tepiyang lurus sepanjang garis AB, dan
tandai pada titik A dan titik B tersebut juga titik-titik di mana
kontur-kontur memotong garis. Berilah label angka tinggi.
Gambar : Pemotongan garis kontur
Dari masing-masing tanda turunkan garis tegak lurus pada kertas. Sejajar
dengan pinggiran yang sudah ditandai gambargaris-garis paralel dengan
skala yang sesuai untuk menunjukkan angka tinggi dari masing-masing
kontur yang dipotong oleh garis AB, yaitu 80 sampai dengan 200 meter.
Buat sebuah tanda pada setiap garis vertikal di mana itu memotong skala
tinggi sejajar sesuai dengan tingginya pada garis AB. Gabungkan
tanda-tanda ini dengan suatu garis kurva yang halus, memungkinkan untuk
membentuk lereng permukaan antara kontur-kontur di lembah dan di puncak
bukit. Penggunaan kertas milimeter atau grid akan memudahkan
penggambaran.
4. MENENTUKAN KEMIRINGAN PADA LERENG
Kemiringan suatu lereng (slope) biasanya didefinisikan sebagai suatu
gradien.Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah gradien 2 dalam 16,
artinya 2 unit vertikal untuk setiap 16 unit pada arah horisontal.
Selama kedua unit tersebut sama pada kedua arah, maka tidak ada bedanya
apapun satuan panjangnya (meter atau pun kaki). Gradien tersebut
biasanya ditulis sebagai 2/16.
Gambar : Kemiringan lereng atau slope
Kadangkala gradien dinyatakan dalam persentase. Untuk mengkonversinya adalah mengalikan perbandingan dengan bilangan 100%, yaitu:
2/16 x 100% = 1,25%
Untuk menentukan gradien suatu titik dijalan pada suatu peta, ukur jarak
horisontal antara kontur-kontur yang berurutan pada peta dan nyatakan
dalam unit yang sama seperti pada angka interval kontur. Misalnya, jika
interval kontur 10 meter dan jarak yang diukur di peta antara dua kontur
yang berurutan tersebut adalah 120 meter, maka gradien rata-ratanya
antara dua kontur adalah :
10/120 = 1/12 atau 1 dalam 12 atau 8,5%.
10/120 = 1/12 atau 1 dalam 12 atau 8,5%.
Untuk menentukan gradien yang paling terjal dari suatu jalan, temukan
titik di mana dua kontur yang berturutan saling berdekatan, kemudian
ukurlah seperti prosedur di atas.
Suatu gradien rata-rata dapat diukur dengan cara yang sama terhadap
beberapa interval kontur, meskipun hal ini tidak banyak berarti kecuali
ada kemiringan lereng yang konstan pada arah yang sama.
Jika dibutuhkan untuk memeriksa bahwa gradien maksimum sepanjang suatu
jalan tidak melebihi 1/6, dan interval kontur adalah 10 meter, maka
jarak antara kontur-kontur tadi tidak boleh kurang dari 6 x 10 = 60
meter. Tandailah pada sepotong kertas suatu jarak 60 meter pada skala
peta, interval kontur dapat diperiksa untuk melihat apakah jarak pada
titik mana pun lebih pendek dari jarak yang ditentukan. Jika demikian
halnya maka gradiennya lebih terjal dari 1/6.
Jika ada kritik, saran dan pesan, mohon kirim ke email. dpw.apri.bengkulu1@gmail.com
Terima Kasih, Salam Tambang Indonesia..!!!
Terima Kasih, Salam Tambang Indonesia..!!!
SUMBER :
BAKOSURTANAL, 2004. Panduan Membaca Peta Rupabumi Indonesia.